Kamis, 04 November 2010

Share on Facebook

Merapi Mengganas, Keluarkan Kekuatan Letusan Terbesar

Posted in Berita Utama by Redaksi on November 5th, 2010
Erupsi Besar
ERUPSI BESAR: Gunung Merapi menyemburkan awan panas dan material vulkanik, terlihat dari radius sekitar 20 kilometer dari puncak, di kawasan kota Boyolali, Jateng, Kamis (4/11).Erupsi eksplosif Gunung Merapi, Kamis pagi sekitar pukul 06.00 WIB. (FOTO ANT/Andika Betha)
* Melontarkan Awan Panas Bergerak Vertikal Mencapai Ketinggian 4 Ribu Meter
* Seluruh Penduduk di Kaki Merapi Solo Boyolali Sudah Dievakuasi
* Kawasan Magelang Gelap Gulita Akibat Tertutup Debu
* Pohon Bertumbangan Akibat Abu Merapi
* Hujan Abu Merapi Capai Cilacap
Klaten (SIB)
Letusan besar yang terus-menerus terjadi dari puncak Merapi membuat kondisi di lereng gunung ini semakin mengkhawatirkan. Kawasan rawan bencana (KRB) telah diperluas menjadi radius 15 km dari puncak. Barak-barak pengungsian baru dipersiapkan untuk mengevakuasi warga ke tempat aman.
Letusan Merapi Ini Terbesar, Awan Panas Bergerak Vertikal
Gunung Merapi kembali menunjukan kekuatannya. Letusan merapi yang terjadi pagi ini bahkan yang paling besar di antara rentetan letusan sejak 26 Oktober lalu.
“Ini letusan yang terbesar sejak 26 Oktober lalu,” tegas Kepala Pusat Vulkonologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM, Dr Surono saat dihubungi detikcom, Kamis (4/11/2010).Surono menjelaskan, aktivitas Merapi memang terus meningkat sejak Rabu (3/11) kemarin. Surono pun belum berani memperkirakan, apakah letusan ini menjadi yang terakhir untuk Merapi atau masih ada yang lebih besar lagi.
Awan panas yang dilontarkan Merapi pagi ini cukup berbeda dari biasanya. Awan panas bergerak vertikal dengan ketinggian mencapai 4 ribu meter.
Seluruh Penduduk di Kaki Merapi Selo Boyolali Sudah Dievakuasi
Seluruh penduduk Kecamatan Selo, Kabupaten Bayolali, Jawa Tengah, telah dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Hal ini terkait status waspada dalam radius 15 Km dari puncak Merapi.”Sudah dievakuasi semua. Tadi subuh saya dan keluarga juga sudah mengungsi,” ujar Jumadi, anggota Tim Siaga Desa Jrakah, Kecamatan Selo, kepada detikcom, Kamis (11/4).
Di kawasan itu, Gunung Merapi ‘bertetangga’ dengan Gunung Merbabu. Menurut Jumadi, hanya desa-desa di lereng Merbabu saja yang sebagian penduduknya tidak mengungsi. Sementara di Selo yang merupakan kaki Merapi, seluruh penduduknya sudah diungsikan.
“Di Jrakah sudah kosong,” terang dia.
Kawasan Magelang Masih Gelap Gulita Akibat Tertutup Debu
Aktivitas Gunung Merapi hingga pagi kemarin terus meningkat. Akibatnya, beberapa daerah yang berada di kawasan Merapi termasuk daerah Magelang masih gelap gulita karena tertutup abu vulkanik.”Karena hujan abu sejak kemarin, sampai pagi ini Magelang masih gelap gulita,” ujar Faqih warga Yogyakarta yang mendapatkan informasi dari orang tuanya yang tinggal di Magelang, kepada detikcom, Kamis (4/11).
Faqih mengatakan, berdasarkan cerita orang tuanya, tidak terlihat sedikit pun cahaya matahari di sekitar Magelang. Faqih mengatakan, abu bergerak ke arah barat Merapi menuju Magelang, Mutilan dan Borobudur.”Masih kaya malam di Magelang,” jelas Faqih.Sedangkan cuaca untuk di Yogyakarta sendiri menurut Faqih hari ini cukup cerah.”Untuk Yogya justru hari ini terang sekali, tidak ada dampak abu vulkanik,” imbuhnya.
Pengungsi Merapi di Klaten Membludak, Petugas Tambah 6 Posko
Semburan awan panas Gunung Merapi Rabu (3/11) kemarin, membuat warga Klaten yang masih mendiami rumah mereka panik. Akibatnya terjadi ledakan pengungsi.
“Karena letusan kemarin sore itu, warga panik dan akhirnya mereka memilih berduyun-duyun mengungsi ke tiga posko utama yang sudah ada,” ujar petugas posko pengungsian utama di Klaten, Sri Winoto kepada detikcom, Kamis (4/11).
Ledakan pengungsi itu lanjut Sri terjadi sejak pukul 23.00 WIB. Data yang didapatkan dari petugas di lapangan sampai pukul 05.00 WIB, jumlah pengungsi mencapai 11 ribu lebih.
“Ada 11 ribu lebih pengungsi dari sekitar 10 desa, padahal awalnya lebih kurang ada 5.700 pengungsi,” jelas Sri.Jumlah yang membludak itu, membuat petugas akhirnya berinisiatif membangun 6 posko baru. Posko ini berada pada posisi yang cukup aman di radius 20 Km.
“3 posko yang sudah ada tidak cukup menampung ledakan pengungsi. Makanya kita tambah lagi 6 posko, di kelas-kelas sekolah, ada juga yang di balai desa,” imbuhnya.
Di Kecamatan Dukun, Pohon Bertumbangan Akibat Abu Gunung Merapi
Pohon-pohon di sekitar Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah banyak yang bertumbangan. Pohon-pohon itu tidak kuat menahan panas serta abu vulkanik yang berasal dari Gunung Merapi.”Pohon-pohon tumbang dan roboh karena tidak kuat menahan abu Merapi yang menimpanya sejak sore tadi,” ujar salah seorang warga, Sodiq saat dihubungi detikcom, Kamis (4/11/2010).Akibat tumbangnya pohon-pohon tersebut, beberapa jalanan praktis tidak bisa dilalui kendaraan. Beberapa relawan, lanjut Soqiq, masih terus bahu-membahu menyingkirkan pohon yang tumbang.Sementara itu, pohon yang masih berdiri juga kondisinya cukup menyedihkan. Batangnya mengkerut hingga membuat bentuknya seperti melengkung.
“Abunya tebal sekali,” katanya.Sodiq menjelaskan, lontaran abu ini terjadi sejak Rabu (3/11) sore tadi. Hingga saat ini, abu yang berterbangan belum juga berhenti.
Wilayah ini, jaraknya sekitar 20 km dari Merapi. Kecamatan Dukun terletak di sebelah selatan Merapi.
Hujan Abu Merapi Capai Cilacap
Abu vulkanik Gunung Merapi semakin jauh berterbangan. Warga yang tinggal di Cilacap, dekat dengan Ciamis sudah bisa merasakan abu vulkanik Merapi.
“Abu nya sudah sampai di sini, tipis kaya kabut,” ujar Enha warga Majenang, Kabupaten Cilacap kepada detikcom, Kamis (4/11). Wilayah yang ditinggali Enha berbatasan dengan Ciamis, Jawa Barat.Menurut Enha, abu ini mulai dirasakan sejak pukul 20.00 WIB. Jika keluar rumah, kondisi jalanan seperti diselimuti kabut tipis.
Di aspal dan lantai rumah, abu ini juga mulai terlihat. Begitu juga dengan kaca-kaca kendaraan.
“Tipis, tapi sampai sekarang masih berlangsung,” jelas Enha.Namun belum ada warga yang sampai harus menggunakan masker saat keluar rumah. Enha juga menceritakan, kondisi Cilacap tidak diguyur hujan.Sore tadi, Merapi kembali melontarkan awan panas (wedhus gembel). Bukan cuma sekali, secara beruntun awan panas menyembur dari puncak Merapi.
Berikut kronologi letusan seperti dilansir website ESDM;- 11.11-13.19 WIB terjadi awan panas beruntun dengan durasi maksimum 2 menit. Sementara cuaca dalam keadaan kabut dan hujan, sehingga pandangan tidak bisa bebas ke puncak Merapi.
- 13.27 WIB dan 13.30 WIB terjadi 2 kali gempa vulkanik dangkal (VB).
- 14.00-14.03 WIB terjadi guguran besar material secara beruntun sebanyak 4 kali dengan durasi maksimum 1 menit.- 14.04-14.27 WIB terjadi rentetan awan panas dengan durasi maksimum 5 menit dengan jarak luncur diperkirakan mencapai 10 km, sehingga diputuskan untuk memperluas daerah aman hingga di luar radius 15 Km.- Pukul 14.44 WIB terjadi awan panas besar selama 1,5 jam.- Pukul 16.23 WIB aktivitas mulai reda.
- Pukul 17.30 WIB dilaporkan bahwa awan panas mencapai 9 km dan menuju ke aliran Kali Gendol.Pusat Vulkonologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi ESDM memperingatkan aktivitas Merapi hingga saat ini masih tergolong tinggi. Status aktivitas Merapi masih tetap pada tingkat Awas (level 4). Masyarakat diminta tidak panik dan terpengaruh dengan isu yang beredar soal Merapi. (detikcom/u)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar